Sabtu, 25 Oktober 2014

Videografi DKV SMKN 9 Bandung

Pengantar teori DASAR-DASAR videografi
PENGERTIAN VIDEO
Video adalah teknologi untuk menangkap, merakam, memproses, mentransmisikan dan menata ulang gambar bergerak. Biasanya menggunakan film seluloid, sinyal elektronik, atau media digital. Video juga dikatakan sebagai gabungan gambar-gambar mati yang dibaca berurutan dalam suatu waktu dengan kecepatan tertentu.
Gambar-gambar yang digabung tersebut dinamakan frame dan kecepatan pembacaan gambar disebut dengan frame rate, dengan satuan fps (frame per second). Kerena dimainkan dalam kecepatan yang tinggi maka tercipta ilusi gerak yang halus, semakin besar nilai frame rate maka akan semakin halus pergerakan yang ditampilkan.
   
PENGERTIAN VIDEOGRAFI
Videografi adalah media untuk merekam suatu moment/kejadian yang dirangkum dalam sebuah sajian gambar dan suara yang dapat kita nikmati dikemudian hari, baik sebagai sebuah kenangan ataupun sebagai bahan kajian untuk mempelajari apa yang sudah/pernah terjadi.

ISTILAH-ISTILAH DALAM VIDEOGRAFI 

1. FRAMING : Bidang Pandangan
Bidang pandangan atau framing adalah suatu langkah pengambilan gambar yang  harus menentukan luas bidang pandangan untuk suatu obyek utama dan obyek lainnya dalam hubungannya dengan latar belakang (back ground).
2. ANGEL : Sudut pandang 
Angle camera adalah sudut pengambilan gambar. Istilah angle ini berlaku baik dalam pengambilan gambar foto maupun video. Penentuan angle secara tepat akan menghasilkan shot yang baik. Angle dapat mempengaruhi emosi dan psikologi penonton, karena shot yang dihasilkan bisa bersifat obyektif, subyektif, atau merupakan sudut pandang tokoh dalam film.
 
3. SHOT : Sudut pengambilan gambar
Shot mendefinisikan suatu rangkaian gambar hasil rekaman kamera tanpa interupsi. Tiap shot adalah satu take. Apabila dibuat shot tambahan diambi ldari set – up yang sama di sebabakan kareana kesalahan teknik atau dramatic shot – shot tambahan itu dinamakan re – take. Kalau set – up diubah dalam satu dan lain cara kamera berpindah, lensa berubah atau action lain yang diambil itu adalah shot baru, bukan sebuah re – take.

4. SCENE : Adegan Pengertian sebuah SCENE adalah : Sebuah adegan yang terjadi dalam suatu lokasi  yang sama, pada saat yang juga sama. Misalnya adegan di sebuah kantin sekolah. Maka sepanjang adegan-adegan yang berlangsung dalam kantin tersebut berlangsung dalam saat yang sama, maka adegan itu dikelompokkan dalam sebuah scene atau disebut satu scene.
Namun  posisi pengambilan gambar dalam kantin tersebut boleh saja berpindah-pindah, asal masih dalam lingkungan kantin tersebut. Artinya boleh saja  sebuah scene terdiri dari lebih dari satu (banyak)  shot atau sudut pengambilan gambar.  


5. SEQUENCE : Serangkaian atau shot – shot, yang merupakan suatau kesatuan utuh.
Sebuah sequence bisa berlangsung pada satu setting atau di beberapa setting. Action harus berkait secara tepat dalam sebuah sequence manakala terdiri dari sejumlah shot yang runtut dengan cut langsung hingga melukiskan kejadian yang berlangsung sebagaiamana kenyataan yang sebenarnya. Sebuah sequence bisa dimulai sebagai adegan exterior, dan dilanjutkan di dalam gedung, karena sang pemain masuk dan terlibat percakapan atau lainya. Sebuah sequence bisa dimulai atau diakhiri dengan sebuah “fade” atau “dissolve” atau bisa pula dengan “cut” langsung dengan mengelompokkan semua sequence.

PRINSIP DASAR DALAM PENGAMBILAN GAMBAR 
PERGERAKAN KAMERA 
1. SIMPLE SHOT
Tidak ada pergerakan lensa kamera, tidak ada pergerakan kamera, tidak ada pergerakan badan  kamera, dan hanya   sedikit pergerakan sederhana dari objek, sebagai contoh   videografer merekam pembaca berita.
2. COMPLEX SHOT
Terdapat pergerakan lensa kamera, ada pergerakan   kamera, tidak ada pergerakan   badan kamera, dan ada   pergerakan dari objek, sebagai   contoh kamera panning   mengikuti pergerakan penari dari satu sudut pengambilan   gambar.
3. DEVELOPING SHOT
Terdapat pergerakan lensa kamera, pergerakan kamera,   pergerakan badan kamera, dan pergerakan dari objek,   sebagai contoh pengambilan gambar dengan menggunakan   crane, semua gerakan kamera dilakukan dan objek pun   bergerak secara dinamis, kamera mengikuti.

TEKNIK DASAR MENYANGGA KAMERA

1. Menahan Kamera dengan Tangan (hand held)
Berdiri dengan posisi seimbang, kamera disangga dengan kuat   dan   tegas, tapi tidak terlalu kencang, dengan posisi tangan kiri   di bawah lensa, tangan kanan pada posisi star stop dan tombol   zoom berada dalam jangkauan, tangan kiri mengontrol fokus   dengan eye piece ditempel terhadap satu mata. Posisi ini   menahan kamera cukup tetap selama periode pendek.
2. Meletakan Kamera di atas Pundak
Kamera diletakan di pundak kanan. Tangan kanan melalui loop   penyangga di sisi lensa sehingga jari bebas mengoperasikan   tombol power zoom rocker, ibu jari menekan tombol pause VCR.   Tangan kiri menyetel tombol zoom manual dan ring pemfokusan.
3. Menggunakan Penyangga (monopod)
Monopod dijepitkan pada lutut dan kaki dan digerakan   dengan cepat ke angle yang berbeda. Kelemahannya   terkadang gambar dengan tidak sengaja miring. 
4. Meletakan Kamera pada Dolly :
  • Tripod
  • Steadycam
  • Slider
  • Pedestal
  • Crane
MACAM-MACAM BIDANG PANDANG (FRAMING) 
1.  CLOSE UP (CU) 
Dari ujung kepala hingga leher bagian bawah, boleh memotong sedikit kepala bagian atas. Close Up juga dapat digunakan untuk mendeskripsikan suatu shot yang mengisolasi satu bagian dari tubuh misalnya, kaki atau tangan, sebagian dari sebuah objek besar misalnya key board laptop atau keseluruhan dari sebuah objek kecil misalnya HP. 

 
 CLOSE UP (CU)
2.  MEDIUM CLOSE UP (MCU) 
Memperlihatkan objek dari ujung kepala hinggga dada atas. Shot ini baik untuk seseorang yang sedang berbicara  langsung di depan kamera. Kesan yang akan ditimbulkan adalah objek akan terfokus, sedangkan back ground tidak terfokus, dengan demikian akan menon menonjolkan objek.  
 
MEDIUM CLOSE UP (MCU) 
3.  MEDIUM SHOT (MS)  
Pengambilan gambar atas kepala hingga pinggang/perut bagian bawah, fungsinya untuk memperlihatkan sosok objek secara jelas. Ada keseimbangan antara dominasi objek dengan back ground sehingga cenderung netral. Untuk pengambilan gambar reporter dengan medium shot tidak boleh dipertahankan terlalu lama karena terlalu jauh untuk memperlihatkan banyak detail. Akan lebih baik bila dikombinasi dengan shot CU karena merupakan follow shot yang baik. 

MEDIUM SHOT (MS)  
4.  KNEE SHOT (KS)  
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga lutut. Batasan framing knee shot adalah 3 / 4 ukuran tubuh manusia. Ukuran gambar ini sering menguntungkan pada saat pengambilan objek yang bergerak agak cepat misalnya penari karena dapat dipastikan objek tidak akan keluar dari frame. 
KNEE SHOT (KS)  
5.  LONG SHOT (LS)  
Pengambilan gambar memperlihatkan seluruh tubuh dari batas kepala hingga kaki. Pengambilan gambar dari jarak yang cukup jauh sehingga dapat memperlihatkan objek dan latar belakangnya. Long shot akan memberikan informasi secara lengkap mengenai suasana dari adegan atau interaksi antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lainnya. 
PENGEMBANGAN BIDANG PANDANGAN (FRAMING) 
1. EKSTREEM CLOSE UP (ECU)  
Pengambilan suatu gambar yang mencakup salah satu bagian tubuh misalnya mata dan hidung saja. Fungsinya adalah mengetahui detail suatu objek. Objek mengisi  seluruh layar dan detailnya sangat jelas. 
2. BIG CLOSE UP (BCU)  
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga dagu, kadang sangat diperlukan untuk menunjukan detail ekspresi wajah aktor dengan menekankan mata dan mencakup sisa wajah  sebanyak yang diperlukan atau dalam adegan proses produksi menekankan pada detail proses pembuatan secara dekat. 
3. VERY LONG SHOT (VLS) 
Pengambilan gambar dengan background mendominasi objek agak kecil, jaraknya lebih jauh dari long shot, tetapi lebih dekat dari ekstrim long shot dengan tujuan untuk memberikan penekanan pada suasana atau latar belakang tetapi objek tetap dapat dikenali. 
4. EKSTREM LONG SHOT (ELS) 
Pengambilan gambar yang menunjukan background sangat dominan, objek sangat kecil, menyajikan bidang pandangan yang sangat luas, jauh, panjang dan berdimensi lebar. Kamera mengambil keseluruhan pandangan dan objek tampak jauh hampir tidak terlihat.

SUDUT PANDANG (ANGEL KAMERA)   

1.  LOW ANGEL
Posisi kamera di bawah eye level (mata penglihatan manusia). Posisi kamera low angel membuat objek mempunyai kekuatan yang menonjol dan akan terlihat kekuasaannya.
2.  STRAIGHT ANGEL 
Posisi kamera sejajar dengan eye level (mata penglihatan manusia). Posisi kamera straight angel merupakan sudut pengambilan gambar yang normal (normal angle). Tidak memberikan kesan dramatis melainkan kesan wajar biasanya dilakukan untuk pengambilan adegan wawancara.
3.  HIGH ANGEL
Posisi kamera diatas eye level (mata penglihatan manusia). Posisi kamera high angel membuat objek tidak mempunyai kekuatan yang menonjol dan tidak mempunyai kekuasaan. Tujuannya untuk mengurangi rasa superioritas objek dan sekaligus melemahkan kedudukan objek. 
4.  CANTED ANGEL 
Dihasilkan dengan cara memiringkan kamera pada bidang horizontalnya. Gambar yang dihasilkan menjadi dinamis dan labil sehingga dapat menggambarkan fantasi, ketegangan atau khayalan penonton. 
5.  SUBJECTIVE CAMERA ANGEL 
Yaitu menempatkan kamera pada suatu karakter dan menunjukan pada penonton adegan dari sudut pandang karakter tersebut. Penonton terlibat dalam adegan yang dihasilkan sebagai pengalaman pribadinya. 
6.  OBJECTIVE  CAMERA ANGEL 
Yaitu menempatkan kamera pada sudut pandang banyak orang atau garis sisi titik pandang. Penonton menyaksikan adegan yang dilihatnya melalui mata pengamat yang tersembunyi, misalnya adegan dipanggung yang ditonton oleh banyak orang. 
7.  BIRD EYE VIEW (MATA BURUNG) 
Yaitu pengambilan gambar di atas ketinggian objek yang direkam memperlihatkan suatu keadaan yang begitu luas, benda-benda objek kecil tidak terlihat detailnya. Biasanya dilakukan dari helikopter atau gedung yang tinggi. Kesan yang ditimbulkan akan lebih dramatis dan dinamis seperti penglihatan burung dari atas. 
8.  FROG EYE VIEW (MATA KATAK) 
Yaitu pengambilan gambar yang dilakukan dengan ketinggian kamera sejajar dengan dasar atau alas kedudukan objek. Kesan yang ditimbulkan adalah keagungan, kekuasaan, kuat, dominan dan dinamis. 

9.  POINT OF VIEW (MAOPEN SHOULDER SHOT) 
Adalah sudut pengambilan gambar dari titik pandangan pemain tertentu. Point of view adalah angle objective, tetapi karena berada diantara objective dan subjective maka angle ini harus ditempatkan pada kategori yang terpisah dan diberikan pertimbangan khusus. Misalnya percakapan antara dua orang yang saling berhadapan.

MACAM-MACAM PERGERAKAN KAMERA 
1.  PANNING 
Adalah pengambilan gambar dengan menggerakan badan kamera ke arah horizontal tetapi tidak mengubah posisi kamera.
A. Folowing Pan
Gerakan kamera mengikuti objek dari kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri. Melakukan folowing pan dalam keadaan long shot akan mengakibatkan penonton dapat melihat hubungan yang terjadi antara objek dengan lingkungannya. 
Pan Left : Gerakan kamera mengikuti objek dari kiri ke kanan. 
Pan Right : Gerakan kamera mengikuti objek dari kanan ke kiri.
B.  Survening Pan
Gerakan kamera secara perlahan-lahan menyusuri pemandangan baik pemandangan hanya sekelompok orang atau pemandangan alam. 
C. Interupted Pan
Gerakan halus tapi dengan tiba-tiba dihentikan dengan maksud menghubungkan dua buah objek dimana objek tersebut terpisah satu dengan lainnya 
D. Whipe Pan : 
Gerakan panning yang dilakukan dengan cepat, sehingga tidak dapat memperlihatkan rincian gambarnya. Dengan whipe pan dapat menciptakan hubungan yang dinamis atau komperatif antar objek yang menghubungkan titik pandang yang berbeda pada scene yang sama.
2.  TILTING 
Adalah pengambilan gambar dengan menggerakan badan kamera ke arah vertikal tetapi tidak mengubah posisikamera. Tujuan dari tilting adalah menunjukan ketinggian atau kedalaman dan adanya satu hubungan. 

Tilt Up : gerak kamera secara vertikal dari bawah ke atas. 
Tilt Down : gerak kamera secara vertikal dari atas ke bawah.

3.  TRACKING 
Adalah pengambilan gambar dengan menggerakan badan kamera dengan arah maju dan 
mundur atau depan belakang, bisa dengan bantuan doly atau manual. 
Track In : gerakan maju kedepan. 
Track Out : gerakan mundur kebelakang.  
4.  ZOOMING 
Adalah pengambilan gambar dengan mengubah ukuran gambar dan sudut pandang antara wide angle (W) dan telephoto (T) dengan sentuhan tombol. Zooming mempengaruhi perspektif dalam satu adegan, oleh karena itu gerakan zooming harus dilakukan dengan tujuan yang jelas.
5.  ARCHING
Adalah pengambilan gambar dengan menggerakan badan  kamera mengelilingi objek utama seperti lingkaran penuh. Dalam melakukan arching kamera melakukan gerakan sapuan sirkuler mengitari objek. Ukuran gambar yang digunakan CU, MS atau LS selama melakukan arching, tetapi ukuran gambar harus senantiasa konstan dan lebih efektif bila tidak dilakukan kombinasi ukuran gambar
6.  PEDESTAL DAN CRANE

Adalah pengambilan gambar dengan menggerakan badan  kamera menggunakan alat penyangga pedestal/crane. 
7.  CRABBING

Adalah pengambilan gambar dengan cara menggerakan badan  kamera menyamping. 
8.  FOLLOWING 
Adalah pengambilan gambar dengan menggerakan badan  kamera mengikuti objek yang bergerak.

  
 






 








 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar yang anda berikan